Abu Hisyam Liadi
Website Pribadi untuk Berbagi
Minggu, 10 Mei 2026
Minggu, 13 Juli 2025
Perintah Membaca dalam Al-Qur’an dan Hadits
Membaca bukan hanya sekadar
kegiatan akademik, tetapi dalam Islam, ia adalah bentuk ketaatan. Ketika
seorang muslim atau muslimah membaca Al-Qur’an, hadits, tafsir, atau kitab para
ulama dengan niat untuk mencari ridha Allah, maka ia sedang beribadah. Ini pula
yang membedakan membaca dalam Islam dengan membaca dalam sekadar konteks
duniawi.
A. Membaca dalam Al-Qur’an
1. Surah Al-‘Alaq (96) ayat 1–5
Islam menjadikan membaca sebagai pondasi
utama dalam membangun peradaban. Hal ini terlihat dari ayat pertama yang
diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ
عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ
الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS. Al-‘Alaq (96) ayat 1–5]
Ayat ini mengandung berbagai bentuk
penekanan terhadap pentingnya ilmu dan membaca. “Iqra’” diulang dua kali,
menunjukkan betapa mendasarnya aktivitas ini. Allah juga menyebutkan “qalam”
(pena), yang menjadi simbol ilmu dan dokumentasi, serta menyebutkan bahwa Allah
mengajarkan manusia hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui.
2. Surah Az-Zumar: 9
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا
يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?'” [QS. Az-Zumar (39): 9]
Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu
bahwa tidaklah sama antara orang-orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.
Dan membaca adalah merupakan sarana untuk mendapatkan ilmu. Maka hendaknya
seorang muslim dan muslimah bersemangat untuk mendapatkan ilmu yaitu dengan
semangat belajar dan gemar membaca.
3. Surah Al-Mujadilah (58) ayat 11
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah (58): 11]
Orang-orang yang berilmu memiliki
kedudukan tinggi di sisi Allah, dan ilmu itu diperoleh melalui belajar dan
membaca.
B. Hadits-Hadits tentang Membaca dan Menuntut Ilmu
1. Hadits tentang Kewajiban
Menuntut Ilmu
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas
setiap muslim.” [Shahih, HR. Ibnu Majah, No. 224]
Hadits ini menegaskan bahwa
menuntut ilmu adalah kewajiban. Dan prosesnya diawali dengan membaca dan
belajar.
2. Hadits tentang Keutamaan Orang
Berilmu
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
“Barangsiapa yang
dikehendaki kebaikan oleh Alloh, maka akan dipahamkannya dalam urusan agama.”
[HR Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037]
Jika Allah
menghendaki kebaikan pada seseorang, maka akan dipahamkan dalam urusan agama
islam. Kepahaman terhadap islam akan didapat dengan mempelajarinya dan membaca
ilmu-ilmu keislaman.
3. Hadits tentang Malaikat
Membentangkan Sayapnya
إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ
رِضًى بِمَا يَصْنَعُ
“Sesungguhnya para malaikat
meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang ia
lakukan.” [Hasan Shahih, HR. Abu Dawud no. 3641]
C. Budaya Membaca pada Zaman Nabi
Nabi biasa membaca al-Quran secara rutin setiap harinya. Demikian
pula para sahabat, mereka biasa mengkhatamkan al-Quran dalam jangka waktu
tertentu. Mereka biasa membacakan ayat-ayat Al-Quran kepada kerabat, teman, dan
orang-orang yang mereka jumpai. Seringkali pula mereka membaca ayat-ayat
tertentu secara berulang-ulang, baik di kala shalat ataupun dalam keseharian.
Bukan hanya tentang Al-Quran, hadits nabi pun juga biasa mereka
bacakan kepada keluarga, sahabat maupun orang lain. Tak jarang mereka saling
mengingatkan antara satu sama lain tentang hadits nabi shallallahu alaihi
wasallam. Demikian pula mereka biasa membacakan dan mengajarkan hadits
kepada generasi setelahnya.
Nabi sangat menganjurkan dan memotivasi para sahabatnya agar gemar menulis dan membaca. Diantara yang menunjukkan hal itu ialah Nabi menjadikan tebusan tawanan perang Badar diantaranya agar mengajari membaca dan menulis kepada anak-anak kaum muslimin. Bagi tawanan perang yang tidak mampu membayar tebusan, namun dia bisa membaca dan menulis maka mereka diminta untuk mengajari anak-anak kaum muslimin agar bisa membaca dan menulis. Padahal mereka masih tetap dalam keadaan kafir, dan yang diajari adalah anak-anak kaum muslimin. Hal ini menunjukkan pentingnya belajar membaca dan menulis bagi seorang muslim dan muslimah.
Downloan PDF: Pentingnya Membaca bagi Seorang Muslim dan Muslimah
Sabtu, 12 Juli 2025
Pendahuluan (Buku Pentingnya Membaca bagi Seorang Muslim dan Muslimah)
Membaca adalah jendela ilmu, dan
ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Tidaklah mungkin seseorang
memahami agamanya, mengenal Tuhannya, atau menapaki jalan kebenaran tanpa
membaca. Dalam sejarah Islam, membaca adalah langkah awal dari seluruh pergerakan
dakwah dan peradaban. Kata pertama yang turun kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bukan perintah untuk shalat, zakat, atau jihad, melainkan
perintah untuk membaca.
Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman:
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu yang menciptakan.” [QS. Al-‘Alaq (96) ayat 1]
Inilah bukti nyata bahwa membaca
dalam Islam bukan sekadar aktivitas tambahan, akan tetapi merupakan ibadah dan
perintah ilahiyah. Dengan membaca, seorang muslim dan muslimah membuka pintu
untuk mengenal Rabb-nya, memahami syariat-Nya, mengetahui halal haram, memahami
akhlak yang mulia dan menjalani hidup dengan panduan yang benar.
Sayangnya, di tengah kemajuan
teknologi dan kemudahan informasi, budaya membaca mulai terpinggirkan. Banyak
kaum muslimin, terutama generasi muda, lebih tertarik pada hiburan visual yang
cepat dan instan daripada meluangkan waktu untuk membaca dan merenung. Padahal,
kejayaan umat ini hanya dapat diraih jika kembali kepada ilmu, dan ilmu tidak
akan bisa dikuasai tanpa belajar dan membaca.
Ulama-ulama besar sepanjang sejarah
Islam adalah orang-orang yang gemar membaca. Mereka rela menghabiskan waktu,
harta, bahkan tenaga hanya untuk membaca dan mencari ilmu. Imam Nawawi,
misalnya, tidak menikah dan tidak terlalu memperhatikan dunia demi mencurahkan
seluruh waktunya untuk membaca dan menulis. Ibnu Qayyim berkata tentang
gurunya, Ibnu Taimiyyah: “Kitab-kitab adalah makanan, minuman, dan hiburan
beliau.”
Maka, tujuan buku ini adalah ikut
berpartisipasi untuk mengajak kembali umat Islam, dari kalangan tua maupun
muda, untuk menghidupkan kembali tradisi membaca sebagai bagian dari kehidupan
sehari-hari. Membaca bukan hanya alat untuk memperkaya ilmu, tetapi juga
sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Buku ini akan mengajak Anda untuk
memahami pentingnya membaca dalam pandangan Islam, disertai dalil-dalil yang
kuat, kisah inspiratif para ulama, serta langkah-langkah praktis untuk memulai
dan menjaga semangat membaca.
Semoga dengan hadirnya buku ini,
setiap pembaca dapat mengambil pelajaran, semangat, dan inspirasi untuk kembali
menjadikan membaca sebagai bagian dari ibadah dan kebiasaan hidup sehari-hari.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Jumat, 11 Juli 2025
Muqaddimah Arbain An-Nawawiyah dari Imam An-Nawawi
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
قَيُّوْمِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرَضِيْنَ مُدَبِّرِ اْلخَلَائِقِ أَجْمَعِيْنَ بَاعِثِ
الرُّسُلِ صَلَوَاتُهُ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ إِلَى الْمُكَلَّفِيْنَ لِهِدَايَتِهِمْ
وَبَيَانِ شَرَائِعِ الدِّينِ بِالدَّلَائِلِ اْلقَطْعِيَّةِ وَوَاضِحَاتِ اْلبَرَاهِيْنِ
أَحْمَدُهُ عَلَى جَمِيْعِ نِعَمِهِ وَأَسْأَلُهُ الْمَزِيْدَ مِنْ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ
Segala puji bagi Allah, Dzat
pemangku langit dan bumi, yang mengatur seluruh makhluk-Nya,
Yang mengutus para rasul sebagai pembawa petunjuk dan menjelaskan syariat agama
dengan keterangan yang jelas dan bukti-bukti yang nyata. Segala puji bagi Allah
atas segala karunia-Nya, dan saya memohon tambahan karunia dan kemudahan
dari-Nya.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللهُ اْلوَاحِدُ اْلقَهَّارُ اْلكَرِيْمُ اْلغَفَّارُ وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ أَفْضَلُ الْمَخْلُوْقِيْنَ
الْمُكَرَّمُ بِاْلقُرْآنِ اْلعَزِيْزِ الْمُعْجِزَةِ الْمُسْتَمِرَّةِ عَلَى تَعَاقُبِ
السِّنِيْنَ وِبِالسُّنَنِ الْمُسْتَنِيْرَةِ لِلْمُسْتَرْشِدِيْنَ الْمَخْصُوْصِ
بِجَوَامِعِ اْلكَلِمِ وَسَمَاحَةِ الدِّيْنِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ
وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَآلِ كُلٍّ وَسَائِرِ الصَّالِحِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ :
Aku bersaksi bahwa tidak ada
Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa,
Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad
adalah hamba dan utusan-Nya, kecintaan dan kekasih-Nya. Ia adalah sebaik-baik
makhluk yang dikaruniakan kepadanya al-Quran yang mulia sebagai mukjizat yang
kekal sepanjang masa. Beliau dimuliakan dengan sunnah yang menjadi pembimbing
orang yang mencari petunjuk, diistimewakan dengan jawamiul kalim (ungkapannya
ringkas namun sangat bermakna), dan juga diistimewakan dengan agama yang mudah.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada para nabi dan rasul, keluarga mereka
dan semua orang-orang yang shalih. Amma ba’du.
فَقَدْ رَوَيْنَا عَنْ عَلِيِّ بْنِ
أَبِي طَالِبٍ وَعَبْدِاللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ
وَابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي
سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ مِنْ طُرُقٍ كَثِيْرَاتٍ بِرِوَايَاتٍ
مُتَنَوِّعَاتٍ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَنْ
حَفِظَ عَلَى أُمَّتِيْ أَرْبَعِيْنَ حَدِيْثًا مِنْ أَمْرِ دِيْنِهَا بَعَثَهُ
اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فِيْ زُمْرَةِ اْلفُقَهَاءِ وَاْلعُلَمَاءِ)) وَفِيْ رِوَايَةٍ:
((بَعَثَهُ اللهُ فَقِيْهًا عَالِمًا)) وَفِيْ رِوَايَةِ أَبِي الدَّرْدَاءِ: ((وَكُنْتُ
لَهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ شَافِعًا وَشَهِيْدًا)) وَفِيْ رِوَايَةِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ:
((قِيْلَ لَهُ ادْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتَ)) وَفِيْ رِوَايَةِ
ابْنِ عُمَرَ ((كُتِبَ فِي زُمْرَةِ اْلعُلَمَاءِ وَحُشِرَ فِي زُمْرَةِ الشُّهَدَاءِ))
وَاتَّفَقَ الْحُفَّاظُ عَلَى أَنَّهُ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ وَإِنْ كَثُرَتْ طُرُقُهُ.
Sesungguhnya telah kami
riwayatkan hadits yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud,
Mu’adz bin Jabal, Abu Darda’, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Abu
Hurairah, dan Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu anhum, bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam telah bersabda, “Barang siapa diantara umatku hafal empat
puluh hadits tentang agamanya, maka pada hari kiamat kelak ia akan dibangkitkan
dalam kelompok ahli fikih dan para ulama.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Ia
akan dibangkitkan sebagai seorang yang ahli fikih yang alim.” Dalam riwayat Abu
Darda’ disebutkan, “Aku akan menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya pada
hari kiamat nanti.” Dalam riwayat Ibnu Mas’ud disebutkan, “Akan dikatakan
kepadanya: ‘Masuklah surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.” Dalam
riwayat Ibnu Umar disebutkan, “Ia dicatat dalam kelompok para ulama dan
dikumpulkan dalam kelompok syuhada.” Namun para ahli hadits sepakat bahwa
hadits-hadits tersebut dhoif walaupun banyak riwayatnya.
وَقَدْ صَنَّفَ اْلعُلَمَاءُ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُمْ فِي هَذَا اْلبَابِ مَالَا يُحْصَى مِنَ الْمُصَنَّفَاتِ فَأَوَّلُ
مَنْ عَلِمْتُهُ صَنَّفَ فِيْهِ: عَبْدُاللهِ ابْنُ الْمُبَارَكِ ثُمَّ مُحَمَّدُ
بْنُ أَسْلَمَ الطُّوْسِيُّ اْلعَالِمُ الرَّبَّانِيُّ ثُمَّ الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ
النَّسَائِيُّ وَأَبُو بَكْرٍ اْلآجُرِيِّ وَأَبُوْ بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ
اْلأَصْفَهَانِيُّ وَالدَّارُقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ وَأَبُوْ عَبْدِالرَّحْمَنِ
السُّلَمِيُّ وَأَبُوْ سَعِيْدٍ الْمَالِينِيُّ وَأَبُوْ عُثْمَانَ الصَّابُوْنِيُّ
وَعَبْدُاللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ اْلأَنْصَارِيُّ وَأَبُوْ بَكْرٍ اْلبَيْهَقِيُّ وَخَلَائِقُ
لَا يُحْصَوْنَ مِنَ الْمُتَقَدِّمِيْنَ
وَالْمُتَأَخِّرِيْنَ
Berkaitan dengan bab ini, telah
banyak ulama yang menyusun kitab dengan jumlah yang tak terhitung. Sejauh yang
saya ketahui, ulama pertama yang menyusun buku empat puluh hadits Nabi adalah
Abdullah bin Mubarak, lalu seorang alim rabbani Muhammad bin Aslam Ath-Thusi, lalu
Hasan bin Syufyan An-Nasa’i, Abu Bakar Al-Ajurri, Abu Bakar Muhammad bin
Ibrahim al-Ashfahaniy, Ad-Daruquthniy, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Abu Abdurrahman as-Sulami,
Abu Sa’id al-Malini, Abu Utsman Ash-Shabuniy, Abdullah bin Muhammad
Al-Anshariy, Abu Bakar Al-Baihaqiy, dan masih banyak lagi dari ulama terdahulu
maupun ulama belakangan.
وَقَدِ اسْتَخَرْتُ اللهَ تَعَالَى فِيْ جَمْعِ أَرْبَعِيْنَ
حَدِيْثًا اِقْتِدَاءً بِهَؤُلَاءِ اْلأَئِمَّةِ اْلأَعْلَامِ وَحُفَّاظِ اْلإِسْلَامِ
وَقَدِ اتَّفَقَ اْلعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ اْلعَمَلِ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ
فِيْ فَضَائِلِ اْلأَعْمَالِ وَمَعَ هَذَا فَلَيْسَ اعْتِمَادِيْ عَلَى هَذَا اْلحَدِيْثِ
بَلْ عَلَى قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي اْلأَحَادِيْثِ
الصَّحِيْحَةِ ((لِيُبَلِّغَ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ اْلغَائِبَ)) وَقَوْلُهُ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ((نَضَّرَ اللهُ امْرَءًا سَمِعَ مَقَالَتِيْ فَوَعَاهَا فَأَدَّاهَا كَمَا سَمِعَهَا))
Saya telah ber-istikharah kepada
Allah dalam mengumpulkan empat puluh hadits ini serta mengambil rujukan dari
para imam yang alim dan para ulama hadits. Para ulama telah sepakat
dibolehkannya beramal dengan menggunakan hadits lemah (dhaif) dalam hal keutamaan
amal. Namun demikian, bukan berarti hal itu yang menjadi alasan saya, melainkan
saya berniat untuk mengamalkan sebuah hadits Nabi shallallahu
alaihi wasallam “Hendaklah yang hadir dari kalian, menyampaikan kepada yang
tidak hadir.” Nabi shallallahu alaihi wasallam Juga bersabda, “Semoga
Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar perkataanku, lalu ia
menghafalnya dan mengamalkan seperti apa yang ia dengar.”
ثُمَّ مِنَ اْلعُلَمَاءِ مَنْ جَمَعَ
اْلأَرْبَعِيْنَ فِيْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَبَعْضُهُمْ فِي اْلفُرُوْعِ وَبَعْضُهُمْ
فِي الْجِهَادِ وَبَعْضُهُمْ فِي الزُّهْدِ وَبَعْضُهُمْ فِي اْلآدَابِ وَبَعْضُهُمْ
فِي الْخِطَبِ وَكُلُّهَا مَقَاصِدُ صَالِحَةٌ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ قَاصِدِيْهَا
Sebagian ulama ada yang
membukukan empat puluh hadits berkenaan dengan pokok-pokok agama, sebagian yang
lain berkenaan dengan cabang-cabangnya, sebagian yang lain lagi berkaitan
dengan jihad, zuhud, adab, dan khutbah-khutbah Nabi. Tujuan mereka semua adalah
baik. Semoga Allah meridhoi mereka dalam membukukan hadits-hadits Nabi.
وَقَدْ رَأَيْتُ جَمْعَ أَرْبَعِيْنَ أَهَمَّ مِنْ هَذَا
كُلِّهِ وَهِيَ أَرْبَعُوْنَ حَدِيْثًا مُشْتَمِلَةً عَلَى جَمِيْعِ ذَالِكَ وَكُلُّ
حَدِيْثٍ مِنْهَا قَاعِدَةٌ عَظِيْمَةٌ مِنْ قَوَاعِدِ الدِّيْنِ قَدْ وَصَفَهُ اْلعُلَمَاءُ
بِأَنَّ مَدَارَ اْلإِسْلَامِ عَلَيْهِ أَوْ هُوَ نِصْفُ اْلإِسْلَامِ أَوْ ثُلُثُهُ
أَوْ نَحْوُ ذَالِكَ ثُمَّ أَلْتَزِمُ فِيْ هَذِهِ اْلأَرْبَعِيْنَ أَنْ تَكُوْنَ
صَحِيْحَةً وَمُعْظَمُهَا فِيْ صَحِيْحَي اْلبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ وَأَذْكُرُهَا
مَحْذُوْفَةً الأَسَانِيْدَ لِيَسْهُلَ حِفْظُهَا وَيَعُمُّ اْلإِنْتِفَاعُ بِهَا
إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى ثُمَّ أُتْبِعُهَا بِبَابٍ فِيْ ضَبْطِ خَفِيِّ أَلْفَاظِهَا
Kemudian saya melihat
hadit-hadits lain yang lebih penting dari itu semua, yakni empat puluh hadits
yang mencakup semua maksud tersebut. Setiap haditsnya merupakan asas dari
kaidah-kaidah agama, para ulama mensifatinya sebagai porosnya islam, atau
mencakup separuh dari agama, ada yang sepertiga, dan seterusnya. Saya berusaha
untuk mengambil empat puluh hadits ini dari hadits yang shahih yang sebagian
besarnya diambil dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sengaja saya tidak
menyebutkan sanadnya agar mudah untuk dihafal dan manfaatnya lebih luas,
insyaAllah. Kemudian aku lengkapi dengan menjelaskan kata-kata yang sulit.
وَيَنْبَغِيْ لِكُلِّ رَاغِبٍ فِي
اْلآخِرَةِ أَنْ يَعْرِفَ فِي هَذِهِ اْلأَحَادِيْثِ لِمَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ
الْمُهِمَّاتِ وَاحْتَوَتْ عَلَيْهِ مِنَ التَّنْبِيْهِ عَلَى جَمِيْعِ الطَّاعَاتِ
وَذَالِكَ ظَاهِرٌ لِمَنْ تَدَبَّرَهُ
Merupakan suatu keharusan bagi
orang-orang yang merindukan kebahagiaan akhirat untuk mengkaji hadits-hadits
ini, karena padanya terkandung hal-hal
penting dan peringatan dalam ketaatan-ketaatan. Ini semua akan tampak bagi
orang-orang yang mentadabburinya.
وَعَلَى اللهِ اعْتِمَادِيْ وَإِلَيْهِ
تَفْوِيْضِيْ وَاسْتِنَادِيْ وَلَهُ الْحَمْدُ وَالنِّعْمَةُ وَبِهِ التَّوْفِيْقُ
وَاْلعِصْمَةُ
Senin, 07 Juli 2025
KEMUNGKARAN DALAM SILATURRAHMI
Silaturrahmi adalah amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam islam. Namun, seperti banyak amal lainnya, ibadah ini bisa ternodai jika tidak dilakukan dengan benar. Banyak orang menyangka bahwa cukup dengan berkunjung atau berkirim pesan, itu sudah cukup disebut silaturrahmi. Padahal, jika dilakukan dengan niat salah atau diiringi perilaku buruk, silaturrahmi justru bisa berubah menjadi ajang dosa dan kemungkaran.
Berikut ini adalah beberapa kemungkaran dalam
silaturrahmi yang wajib dijauhi oleh setiap muslim:
A. Silaturrahmi Karena Dunia, Bukan Karena Allah
Silaturrahmi
seharusnya dilakukan karena Allah ta’ala, bukan karena kepentingan duniawi seperti
bisnis, jabatan, pengaruh, atau hanya demi pencitraan sosial.
Jika niat tidak
ikhlas, maka pahalanya bisa gugur dan akan terasa sakit jika tidak sesuai
dengan hasil yang diharapkan.
Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan
sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai denga apa yang diniatkan.”
[HR Bukhari no. 1, Muslim no. 1907]
Bersilaturrahmi ke pejabat
atau orang kaya hanya karena berharap proyek. Mengunjungi kerabat hanya Ketika sedang
butuh bantuan, tetapi menghilang saat mereka kesulitan. Ini adalah bentuk
silaturrahmi yang tidak murni karena Allah dan tidak mencerminkan ukhuwa yang
sebenarnya.
B. Ghibah (Menggunjing) Dan Membicarakan Aib Orang
Silaturrahmi kadang
dimanfaatkan sebagai ajang ngobrol Panjang lebar. Celakanya, percakapan sering
melebar menjadi ajang ghibah atau membicarakan aib orang lain yang tidak hadir.
عَنْ أَبِيْ
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَا اْلغِيْبَةِ؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ:
ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ. قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا
أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ, وَإِنْ لَمْ
يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wallam bersabda: “Taukah
kalian ap aitu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau bersabda: “Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.”
Seseorang bertanya: “Bagaimana jika yang aku katakana itu benar-benar ada pada
saudaraku?” Beliau menjawab: “Jika memang ada padanya, berarti engkau telah
mengghibahinya. Namun jika tidak ada padanya, berarti engkau telah
memfitnahnya.” [HR Muslim 2589]
C. Namimah (Adu Domba)
Mengunjungi kerabat lalu membawa kabar dari satu pihak ke pihak lain
yang justru memecah belah atau menimbulkan permusuhan adalah suatu kemungkaran.
عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Dari Hudzaifah radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu
alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu
domba (namimah).” [HR Bukhari no. 6056, Muslim no. 105]
D. Pamer Dunia Dan Ujub
Kadang orang yang bersilaturrahmi justru menjadikan momen itu sebagai
ajang memamerkan kekayaan, jabatan, anak-anaknya yang sukses, atau pencapaiannya.
Bisa pula dengan memposting di media social secara berlebihan untuk menunjukkan
siapa yang paling sering bersilaturrahmi, paling dekat dengan tokoh, dan
lain-lain.
Ini bisa menimbulkan iri hati orang lain, rasa rendah diri dari yang
tidak punya, serta ujub dan sombong dari yang pamer. Riya’ (pamer amal) adalah
syirik kecil yang bisa merusak amal, bahkan bisa menjadikan amal sia-sia di
sisi Allah.
E. Menghina Dan Mencela Kerabat
Kadang silaturrahmi
justru menjadi momen menyindir, membuka aib lama, atau menghina pilihan hidup
kerabat. Sehingga silaturrahmi yang seharusnya mempererat ikatan persaudaraan,
justru bisa menjadi retak dan terputusnya tali persaudaraan.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بِحَسْبِ امْرِئٍ
مِنَ الشَرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ. كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ
حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah
seseorang dikatakan berdosa jika ia meremehkan saudaranya Muslim. Setiap muslim
atas muslim yang lainnya adalah haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
[HR Muslim no. 2564]
F. Menunda Atau Memutus Silaturrahmi
Sebagian orang menunda-nunda bahkan memutus hubungan silaturrahmi karena
hal sepele: beda pendapat, beda pilihan politik, atau hanya karena
kesalahpahaman.
عن أبي أيوب الأنصاري رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ ثَلَاثَ
لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا. وَخَيْرُهُمَا الَّذِيْ
يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ
Dari Abu Ayub al-Anshari radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal
bagi seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari.
Keduanya bertemu lalu saling berpaling, dan yang terbaik di antara keduanya
adalah yang pertama kali mengucapkan salam.” [HR Bukhari no. 6077, Muslim no.
256]
G. Campur Baur Antara Laki-Laki Dan Perempuan Tanpa
Hijab
Di banyak acara keluarga
atau reuni, sering terjadi ikhtilat (percampuran bebas antara laki-laki
dan perempuan yang bukan mahram. Tanpa hijab dan tanpa Batasan. Ini bisa
mengarah pada pandangan haram, sentuhan haram, bahkan perselingkuhan.
Allah subhanahu
wata’ala berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
“Katakanlah kepada
laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menundukkan pandangan …” [QS An-Nur
(24): 30]
H. Berjabat Tangan Dengan Lawan Jenis
Tradisi salam-salaman saat lebaran atau acara keluarga seringkali
menyebabkan jabat tangan antara pria dan Wanita yang bukan mahram.
عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ
عَنْهَا قَالَتْ: وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَدُ امْرَأَةٍ قَطٌّ إِلَّا امْرَأَةَ يَمْلِكُهَا
Dari Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anh, ia berkata: “Demi
Allah, tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah
menyentuh tangan perempuan sama sekali, kecuali perempuan yang menjadi miliknya
(istri atau budak). [HR Bukhari no. 7214, Muslim no. 1866]
I. Silaturrahmi Dihiasi Dengan Kemaksiatan
Silaturrahmi hendaknya tidak diiringi dengan kemaksiatan, sehingga
silaturrahmi benar-benar mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Bukan malah
sebaliknya, niatnya silaturrahmi namun justru mendatangkan keburukan dan
kerusakan.
Meskipun judulnya “Silaturrahmi”, namun jika isinya maksiat, hukumnya
haram dan tidak berpahala.
J. Tidak Menjaga Adab Dalam Silaturrahmi
Seorang muslim
hendaknya senantiasa berusaha berhias dengan akhlak yang baik dalam segala
urusannya, termasuk ketika bersilaturrahmi. Diantara akhlak yang baik ialah tidak
masuk rumah kecuali memberi salam dan diizinkan, bertutur kata yang baik lagi
sopan, dan tidak berlama-lama tanpa perasaan apalagi sampai larut malam.
Allah subhanahu
wata’ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتًۭا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ
حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا۟ وَتُسَلِّمُوا۟ عَلَىٰٓ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌۭ
لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Wahai orang-orang
yang beriman! Janganlah kalian masuk rumah yang bukan rumah kalian sebelum
meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” [QS
AN-Nur (24): 27]
K. Silaturrahmi hanya dengan kerabat tertentu saja
Sebagian orang hanya
menyambung silaturrahmi dengan keluarga atau kerabat yang membalas hubungan
baiknya. Jika tidak dibalas, makai a pun memutuskan hubungan dan tidak lagi
menyambungnya Kembali.
Nabi shallallahu alaihi
wasallam bersabda:
لَيْسَ اْلوَاصِلُ
بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ اْلوَاصِلَ الَّذِيْ إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Bukanlah orang yang
silaturrahmi itu yang membalas (kebaikan kerabat), akan tetapi yang benar-benar
menyambung silaturrahmi adalah orang yang tetap menyambung Ketika silaturrahmi
diputus olehnya.” [HR Bukhari no. 5991]
Silaturrahmi bukan hanya untuk mereka yang baik kepada kita. Seorang mukmin sejati berusaha menyambung silaturrahmi meski diputus, berbuat baik meski dibalas dengan keburukan, dan melakukannya karena mengharap ridha Allah, bukan karena sikap manusia.



